Jumat, 09 Maret 2012

Kritik sastra Filem Negeri 5 Menara

Sinopsis
Diawali dengan kelulusan alif dan randai, sepasang sahabat yang memiliki cita-cita yang sama setelah lulus sma mereka bermimpi akan melanjutkan ke ITB bandung.
Dalam filem ini difokuskan kepada anak yang bernama alif. Seumur hidupnya, Alif tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di rimba bukit barisan, main bola disawah dan mandi di air biru danau maninjau. tiba-tiba dia harus melintasi punggung Sumatra menuju sebuah desa di pelosok jawa timur. Ibu alif ingin dia menjadi buya Hamka walau Alif ingin menjadi habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti kemauan ibunya. Belajar di pondok.
Sebelum alif berangkat menjejaki pulau jawa, ia diajak oleh ayahnya untuk menjual ternak yang merupakan harta yang paling berharga untuk keluarganya, dalam bertransaksi, ayah alif memasukkan tangannya kedalam sarung, dan menyepakati harga dengan pembelinya, dalam transaksi ini ternya ta memiliki makna yang dalam, sama dengan kehidupan, segala sesuatu itu harus decoba dan dijalani agar kita benar-benar mengetahui maksud dan tujuannya.
setelah melakukan perjalanan panjang menuju pulau jawa, alif langsung mengikuti test dan lulus sehingga ayahnya harus pergi pulang dan meninggalkan alif di pondok pesantren madani.
Di hari pertama masuk kelas, alif terkesima mendengarkan mantera sakti “Manjadda wajada”. Siapa yang bersungguh-sungguh ia pasti dapat, dipersatukan dengan kebersamaan ketika adegan jewer berantai yang dipopulerkan oleh senior asrama jika ada yang telat melakukan kegiatan yang sudah disepakati.
teman-teman alif yang akan menjadi topic besar pada kisahini adalah, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari sumenep, atang dari Bandung dan Basa dari Gowa. Dibawah menara di samping masjid, mereka selalu menunggu waktu magrib sambil menyaksikan awan bearak ke ufuk. mereka menyatakan bahwa awan-awan itu menjlma menjadi Negara dan benua impian masing-masing.
ditengah cerita dikisahkan bahwa basa tidak bisa berlama-lama disana karena harus menjaga neneknya yang hidup sebatang kara dan sedang sakit parah di kampungnya. perpisahan ini membuat alif dan teman-temannya sedih. Basa tidak tinggal diam menunggu nasib baik akan menghampirinya, ia membuka semacam pengajian rutin untuk anak-anak yang kemudian sukses dan bis membawanya menuju Negara impiannya.
tidak hanya basa, teman-teman alif yang lain sukses meraih mimpi mereka dan berfoto dengan menara impian masing-masing.

Interpretasi
Filem ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama dengan tampilan sederhana namun menggugah. pengarang ingin menyampaikan makna dengan sederhana tapi bisa mengenai hati penontonnya. filem ini di buat agar penonton benar-benar mengetahui arti sebuah mimpi, dan tidak akan meremehkan impian mereka, justru setiap orang harus memiliki mimpi yang jauh diluar batas bayangannya. selain itu, filem ini memberikan pendidikan tentang kehidupan, sejatinya perjuangan dan pertahanan terhadap mimpi yang dimiliki, selain itu filem ini juga memberi pendidikan islam dan keilmuan, untuk bermanfaat bukan hanya sekedar dimanfaatkan.

Analisis
alur yang digunakan pada filem ini adalah progresif atau alur maju karena menceritakan dari awal yaitu ketika alif dan randai lulus dari smp dan ingin melanjutkan ke sekolah pilihannya, alif yang tidak bisa mengikuti mimpinya karena harus mengukuti perintah ibunya, lalu pergi ke pesantren madani dan akhirnya ia sukses beserta ke-5 temannya yang memimpikan pergi ke Negara impian masing-masing.
dari segi tokoh, alif adalah tokoh central pada filem ini, tokoh alif adalah seorang anak yang berwatak pendiam dan selalu mengalah kepada teman-temannnya. alif adalah anak yang pintar berbahasa inggris karena impiannya ingin pergi ke Amerika. Basa adalah seorang anak yang cerdas dan pintar, baik hati dan periang. Dibuktikan dengan ketika ia mendapatkan juara kelas dan bisa menghapal alquran serta lancer berbahasa arab.
Selain Alif dan Baso, berikut semua tokoh yang hadir dalam flem ini
Alif : Tokoh 'aku' dalam cerita ini.
Raja : Teman Alif dari Medan. Ia adalah anggota English Club dan seorang orator yang hebat.
Said : Dari Surabaya. Ia sangat terobsesi dengan bodybuilding dan mengidolakan Arnold Schwarznegger.
Dulmajid : Dari Sumenep, Madura. Seorang pemain bulutangkis, rekan latih tanding Ustad Torik.
Atang : Dari Bandung. Seorang yang mencintai seni dan teater.
Baso : Dari Gowa, Sulawesi. Terkenal karena memori fotografis dan Bahasa Arab yang fasih. Ia meninggalkan Pondok Madani saat kelas dua untuk menjaga neneknya dan berusaha menghafal Al-Qur`an di kampung halamannya.
Dari penjelasan tokoh diatas, dibalik layar ternyata disebutkan bahwa Ayah alif yagn sebenarnya adalah orang jawa dan mamanya orang Pakistan yang tinggal di medan, dari sini kita bisa menangkap bahwa allif tidak begitu bisa menggunakan bahasa minang dengan fasih, karena latar belakang yang berbeda, begitu pula dengan randai. dari segi latar, sutradara flem ini sudah mencari 100 tempat untuk melakukan syuting, tetapi hanya PMlah yang benar-benar cocok dengan tempat yang dikisahkan novel karena di sampul bagian dalam novelnya terdapat peta pesantren madani, yang dibuat langsung oleh pengarangnya, yaitu A. Fuadi.


Penilaian
filem ini bagus sebagai bahan motivasi untuk pendidikan kehidupan. selain itu kita benar-benar merasakan kedahsyatan mantra manjadda wajada. untuk ibu-ibu yang bingung mendidik anaknya, flem ini akan berguna dalam mempertimngankan pendidikan anak. setiap kali kita mendapatkan ilmu kita harus menyampaikannya kepda orang lain tanpa mengharapkan imbalan dari siapapun kecuali dari Allah, karena ilmu itu bukan ladang penghidupan tetapi ladang perjuangan. selain itu, filosofi alam terkembang menjadi guru telah di buktikan oleh pengarang novelnya yaitu A. Fuadi, dan BUkan ketajaman pisau yang bisa membelah kayu, tetapi kesungguhanlah yang bisa melakukannya dengan baik. Karya yang sungguh menakjubkan.
kelemahan yang terdapat pada flem ini adalah,
1. casting para tokohnya, karena alif kecil dengan alif besar sangat jauh berbeda, ustad salman, yang digambarkan pada novel adalah seorang ustad yang berani, berbadan ringan dan hebat dalam persilatan.
2. Banyak bagian penting dari novel yang tidak ditampilkan, contohnya saja pada saat alif dan dulmajid menjaga pos malam pesantren, dan mereka berhasil membekuk pencuri yang akan mencuri sapi pesantren. Bukan hanya adegan itu, masih banyak lagi yang tidak dimunculkan. ini akan membuat para penikmat yang sudah membaca novelnya dan lalu menonton flemnya akan kecewa.
3. saad, di dalam novel diceritakan sudah memiliki tunangan yang bernama najwa, dan ia adalah keturunan arab, namun, di flem, sedikitpun tidak kelihatan keturunan arab.
Kelebihan
1. Alur yang teratur yang tidak membuat penonton bingung akan memudahkan penikmat cepat dalam memahami kisahnya.
2. motivasi luar bisa benar-benar sampai kepada penonton.
3. nilai-nilai kehidupan yang disampaikan sutradara walaupun tidak sesempurna novel, akan tersampaikan karena bagian-bagian itu ditonjolkan, seperti, ketika ayah alif akan menjual kerbaunya, dan memasukkan tangannya kesarung dalam bertransaksi, dilanjutkan dengan jeweran berantai, nilai kebersamaan, yang padahal 6 anak itu berasal dari daerah yang berbeda, namun tidak menjadi hambatan untuk bersahabat, justru mereka lebih dekat dan peduli sesame.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar